Foto Profil Handi Suyadi

Handi Suyadi

33 Review | 31 Makasih
Level 5
Filter Catatan
Urutkan berdasarkan: Tanggal
  • 4.0  
    Dragon Hot Pot [ Pasir Kaliki, China ]

    Rasanya bukan Hotpot Seutuhnya

    Papa mengajak saya ke sini setelah melihat video mengunjungi Dragon Hot Pot di TikTok. Berhubung restoran belum lama buka dan area tergolong kecil, restoran sering nyaris overload. Untungnya ga sampe ada antrian panjang.

    Ada 3 pilihan kuah yang ditawarkan. Karena sedang tak ingin makan pedas, akhirnya memilih kuah collagen.

    Pilihan varian isian hotpot sangat bervariasi mulai dari karbohidrat, sayuran, daging dan seafood. Tidak seperti di tempat lain, harga item dihitung berdasarkan berat bukan nilai suatu item. Mengingat harga per 100 gram tergolong murah (30 ribu), sebaiknya maksimalkan kesempatan dengan mengambil item yang premium seperti abalone, kerang bambu dan scallop. Karena bukan saya yang ambil (waktu itu saya yang jaga meja), harap maklum apabila item yang terdapat pada foto terkesan random. 

    Saking randomnya, ada beberapa item yang diambil terasa kurang nyambung dengan kuah collagen seperti chicken luncheon, nugget ikan dan otak-otak ikan. Bagi saya rasa kuah collagen lebih cocok dipadukan dengan item alami. 

    Kuah Collagen (9,5/10)
    Sebagai pilihan aman, kuah collagen sukses membuktikan bahwa kuah ini penting untuk dicoba. Dengan citarasa yang lembut (meski bagi beberapa orang agak berani asin) dan hangat layaknya susu, kuah collagen dapat dihirup tanpa terasa eneg. 
    Sebagai pelengkap terdapat taburan daun bawang dan kacang goreng. Menariknya kacang tetap renyah setelah lama terendam dalam kuah collagen. 
    Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kuah collagen sebaiknya dipadukan dengan alami karena tidak merusak rasa kuah. Rasa item seperti processed frozen food malah overshadowed rasa kuah. 

    Saya sempat terkejut menemukan penyajian hotpot tidak menggunakan panci hotpot di atas kompor, melainkan di mangkok besar. Ya ga berasa kayak lagi makan hotpot seutuhnya. 

    Dragon Hot Pot tidak menyediakan sambal, jadi kalo mau makan dengan citarasa pedas mau tidak mau harus pesan kuah yang pedas.

    Meski area restoran full indoor, saat makan banyak lalat berterbangan. Dan apesnya menurut waiter tidak ada lilin. 

    Harga per orang: Rp. 50.000 - Rp. 100.000
    Makasih Infonya!




  • 3.8  
    Al Jazeerah Signature [ Riau, Arab/Timur Tengah ]

    Kurang Balance

    Sejak sekitar tiga tahun yang lalu masakan Arab mulai mendapat tempat di Bandung. Walaupun budaya menkonsumsi masakan Arab tidak sekuat di Jakarta bukan berarti Bandung tidak memiliki restoran masakan Arab yang terkenal. Salah satu restoran yang terkenal adalah Al Jazeerah. 

    Karena ortu sepertinya tidak akan doyan, maka saya memilih pesan delivery via ojol saat ortu sedang pergi. 

    Biryani Laham / Lamb (8/10)
    Dalam hal rempah-rempah tergolong berani. Rasa kompleks dan tajam dalam biryani sangat kentara. Dari segi rasa bisa dikatakan biryani versi Al Jazeerah cenderung berani asin.
    Sayangnya daging kambing terasa minim bumbu. Sama sekali kontras dengan nasi biryani yang sangat terasa rempah-rempah. Rasanya cuma asin saja. 

    Biryani Dujaj / Chicken (8,5/10)
    Jika dibandingkan dengan kambing, ayam lebih terasa bumbunya namun masih kalah "powerful" dengan nasi biryani. 

    Sambosa Jubnah / Cheese (8/10)
    Pada buku menu, sambosa jubnah diposisikan sebagai recommended menu. Ada alasan mengapa sebaiknya pilih yang varian lain. 
    Sesuai dengan judulnya, jelas isinya krim keju. Krimnya sendiri lembut dengan rasa gurih yang lembut. Kalo ga benar- benar suka sama isiannya mungkin tidak akan suka. 

    Layaknya restoran timur tengah pada umumnya, porsi menu sangat besar sekalipun porsi berukuran small.  Untuk ukuran orang yang sering makan dalam porsi besar tampaknya porsi regular lebih pas. 

    Harganya agak mahal, apa karena faktor bahan baku ya? 

    Harga per orang: Rp. 100.000 - Rp. 200.000
    Makasih Infonya!




  • 3.8  
    Spice Affair [ Sukajadi, India ]

    Menonjolkan Rasa dari Rempah-Rempah

    Habis makan siang ternyata masih merasa belum kenyang. Tanpa pikir panjang mencoba pesan Spice Affair. Kebetulan lagi kepengen makan masakan India.
    Paket A (8,5/10)
    Paket terdiri dari butter chicken, biryani dan samosa. Sebagai pelengkap, terdapat 2 kondimen dan beberapa biji bawang merah. Sungguh tampak meriah bukan? Tampaknya Spice Affair bukan tipe yang senang menu asin, melainkan menonjolkan rasa tajam dari rempah-rempah yang cukup kuat. Tidak diketahui apakah takarannya sudah disesuaikan dengan selera orang Indonesia, tetapi bagi saya rasanya cukup kuat. Kalo tahan sama rasa rempah-rempah yang kuat pasti akan suka. Hampir semua menu tergolong enak kecuali samosa yang rasanya cenderung B aja. 

    Harga per orang: Rp. 50.000 - Rp. 100.000
    Makasih Infonya!




  • 3.8  
    Pisang Goreng Madu Bu Nanik [ Tanjung Duren, Indonesia ]

    Terlalu Berminyak

    Honestly, saya tergolong terlambat dalam mencoba Pisang Goreng Madu Bu Nanik. Setelah sebelumnya sempat mencoba versi kompetitor dan mengecewakan, akhirnya terpikirkan untuk membeli versi yang sudah sangat terkenal.

    Pisang Goreng dan Cempedak Goreng (8/10)
    Tidak seperti gorengan pada umunnya, pisang dan cempedak tidak dibalut dengan tepung, melainkan di bentuk menjadi adonan. Keduanya sama-sama dicetak sehingga membentuk lingkaran.
    Meskipun bersalut madu, gorengan tidak gosong sehingga tidak terasa pahit. Bagian dalam tidak manis, lebih ke rasa alami buah.
    Minusnya gorengan terlalu berminyak. Bahkan setelah sudah berulang kali dilap di tissue masih tetap minyakan. Masalah ini menyebabkan gorengan terasa berat.

    Untuk standar Jakarta harga nyaris menyentuh Rp 10.000 per buah tergolong murah. Namun untuk standar Bandung tergolong terlalu mahal.

    Harga per orang: < Rp. 50.000
    Makasih Infonya!
    1 pembaca berterima kasih.




  • 4.0  
    Kampung Daun [ Lembang, Indonesia ]

    Snack Sore dengan Suasana Kampung

    Setelah jalan-jalan di Lembang, saatnya bersantai di Kampung Daun. Karena sebelumnya sudah makan siang, maka di sini cuma makan light meal saja. 

    Kampung Daun dari jaman dulu sering diserbu turis karena vibenya yang indah seperti sedang berada di kampung. Tidak seperti kebanyakan restoran yang mengutamakan view dimana sering kali rasa menu malah tidak enak, rasa menu di Kampung Daun jauh dari berantakan (meski untuk menu yang bukan spesialisasinya ada yang kurang enak). 

    Poffertjes Keju & Coklat (3/10)
    Sepertinya membuat poffertjes bukan keahlian Kampung Daun. Buktinya tekstur adonan dan rasa poffertjes malah menjadi mirip kue lumpur. 
    Satu-satunya yang bisa menyelamatkan poffertjes itu sendiri hanyalah isian poffertjes. 

    Pisang Goreng Gula Aren dan Pisang Goreng Gula Aren dan Keju (9,5/10)
    Pisang goreng versi Kampung Daun memiliki tekstur luar tepung bumbu yang renyah (dan juga tidak keras) dan bagian dalam tetap empuk, sehingga tidak perlu susah payah mengunyah pisang goreng. 

    Surabi Kinca dan Surabi Pisang Keju (7/10)
    Surabi agak bantet. Terlepas dari masalah bantet, topping sangat berlimpah. 
    Khusus surabi pisang keju, topping terkesan kurang nyambung. 

    Sekoteng Ronde (9/10)
    Sekoteng ronde mungkin bukan salah satu menu spesialis Kampung Daun, namun jauh dari kata buruk. 
    Jelas, isinya ronde (ada isi kacang), potongan roti tawar, kolang kaling dan pacar cina. Isinya cukup banyak dan tersembunyi oleh kuah sekoteng yang pekat, padahal aslinya cukup meriah. Ga nyangka isinya sebanyak itu karena sempat dikira isinya cuma sedikit. 
    Rasa kuah cukup hangat. 

    Bandrek (9/10)
    Rasa minuman agak mirip dengan sekoteng, hanya saja rasa jahe lebih berani. Minuman disajikan dengan irisan kelapa. Saat itu saya sedang apes mendapati kelapa sudah agak tua. 
    Bandrek versi Kampung Daun cukup kuat pedasnya, maka hanya cocok bagi yang terbiasa minum minuman dengan jahe. 

    Beberapa menu terasa terlalu mahal harganya.

    Sebaiknya jangan datang ke Kampung Daun mepet ke jam sibuk karena antriannya cukup panjang. 

    Harga per orang: Rp. 50.000 - Rp. 100.000
    Makasih Infonya!




  • 2.8  
    Sindang Reret [ Lembang, Indonesia ]

    Banyak lalat

    Sudah lama tak makan di Sindang Reret, maka menjelang makan siang diputuskan untuk makan di Sindang Reret. Kebetulan habis dari jalan-jalan di daerah Cikole.

    Bangunan restoran sudah berubah menjadi lebih modern dibandingkan saat waktu saya masih kecil. Selain meja, ada pula lesehan dalam bentuk kapal (sayangnya lesehan lagi penuh waktu datang). Suasana cukup homey meski tampak gelap di area tengah.

    Sayangnya mayoritas menu yang dipesan rasanya cenderung biasa-biasa saja. Satu-satunya menu yang agak lumayan cuma sate maranggi. Harganya juga cenderung overpriced, malah mendekati harga tipikal restoran di Jakarta. 

    Rupanya banyak lalat berterbangan saat makan. Alhasil makan sambil konsentrasi mengusir lalat. Sepertinya banyak lalat karena duduk di meja yang berlokasi dekat taman. 



    Harga per orang: Rp. 50.000 - Rp. 100.000
    Makasih Infonya!




  • 4.0  
    Atek [ Jelambar, China ]

    Bukan yang Terbaik, namun Tidak Begitu Buruk

    Teman papa saya merekomendasikan Atek sebagai salah satu penjual panggang babi enak di Jakarta. 

    Jujur bingung ya kenapa sebagian review di internet mengatakan rasanya cenderung kurang enak. Padahal sebenarnya rasanya jauh dari tidak enak. 

    Babi Panggang, Cashio Garing, Cashio Garing Madu (8/10)
    Ketiganya bukan tipe menu yang memiliki rasa yang tajam, lebih ke kalem. Khusus menu dengan embel garing, meski memiliki tekstur renyah, daging tidak keras. 
    Walaupun bukan termasuk yang paling enak, Atek tergolong lumayan terutama bagi yang tidak menyukai menu dengan rasa yang tajam.

    Harga per orang: Rp. 50.000 - Rp. 100.000
    Makasih Infonya!




  • 4.2  
    Taco Bell [ Senopati, Meksiko ]

    Mencoba yang Sedang Viral

    Akhirnya Taco Bell resmi buka di Indonesia! Tak lama berselang langsung viral di Jakarta. Mumpung sedang di Jakarta ya sekalian beli Taco Bell. 

    Taco Supreme (9/10)
    Sama seperti di gambar, isi dalam taco beneran banyak. Begitu pula dengan sausnya juga berlimpah. Namun untuk saus hampir semuanya (kecuali saus keju yang disiram di atas) ngumpul di bagian dekat potongan daging. kalo ga makan bagian bawah tidak akan terasa seperti apa rasa sausnya. Untuk rasa sausnya cenderung asam, walaupun tidak terlalu tajam asamnya. 

    Grilled Stuft Burrito (9/10)
    Dibandingkan dengan taco supreme, porsi grilled stuft burrito lebih mungil. Isinya tentu saja didominasi oleh daging. Soal rasa cenderung mirip sama taco supreme. Bedanya kali ini ada rasa sedikit pedas juga.  

    Nacho Chips (7/10)
    Jika pesan menu combo bisa ganti nacho chips. Nacho chips sendiri sudah dikasih bumbu yang sayangnya ditabur tidak rata. Alhasil ada beberapa keping yang terasa tawar. Anehnya ada beberapa keping yang juga tawar meski sudah ditaburi bumbu. 

    Jujur saya kurang tau apakah Taco Bell di Indonesia rasanya tergolong autentik seperti di Amerika atau tidak, tapi berdasarkan pengalaman uji coba ke orang tua tampaknya hanya cocok buat yang doyan atau terbiasa makan masakan Tex-Mex. 

    Dengan porsi yang tergolong tidak terlalu besar, harga yang dipatok dirasa terlalu mahal.

    Mohon maaf fotonya cuma satu karena keburu sibuk makan. 

    Harga per orang: Rp. 50.000 - Rp. 100.000
    Makasih Infonya!




  • 4.8  
    R&B Tea [ Pluit, Kafe ]

    Unik dan Well Executed

    Belakangan ini sedang booming R&B Tea di Bandung dan Jakarta. Jujur penasaran karena melihat di Instagram banyak yang membeli R&B Tea. Saya memilih dua minuman yang kira-kira dirasa cocok. 

    Cheese Brulee Brown Sugar Pearl Fresh Milk (9,5/10)
    Meskipun terdengar aneh, konsep yang diusung tergolong successfully executed. Susu dengan brown sugar sudah pasaran, namun bagaimana jika ditambahkan cream cheese? Rasa minuman setelah cream cheese dan susu dicampur masih terasa nyambung. Hasilnya ada rasa minuman yang unik. Bukan ide yang buruk bukan? 
    Pearl memiliki citarasa manis yang khas (kemungkinan berasal dari madu). Meski cukup manis, rasanya tidak overshadow rasa susu, brown sugar dan cream cheese. 

    Loacker Choco Cloud (9,5/10)
    Menu ini adalah menu LTO. Walaupun ada embel-embel Loacker bukan berarti cuma asal menjual merek Loacker saja. Jujur saya cukup bingung dengan konsep "cloud" namun sebenarnya Loacker Choco Cloud terasa sangat enak. Minuman ini termasuk memiliki rasa coklat yang pekat seimbang dengan susunya. Rasanya cukup beda tidak seperti sekadar minum susu coklat saja. Sangat cocok bagi pecinta coklat. 

    Harga per orang: < Rp. 50.000
    Makasih Infonya!




  • 3.2  
    Pisang Panik [ Blok M, Indonesia ]

    Terlalu Overcooked

    Sebenarnya pesan delivery dari cabang Kyai Maja, cuma karena cabang Kyai Maja ga ada di Pergikuliner maka reviewnya numpang di sini. 

    Another trend that isn't (maybe never?) catch on Bandung, pisang goreng bersalut madu. Di Jakarta, pisang pisang goreng bersalut madu sempat booming hingga banyak kompetitor bermunculan. Salah satu merek yang muncul adalah Pisang Panik. Teman papa saya merekomendasikan Pisang Panik karena katanya enak. Namun sayangnya realita tidak sesuai dengan kenyataan.

    Pisang Panik Original (5/10)
    Barangkali bisa dikatakan pisang panik adalah contoh pisang goreng bersalut madu yang gagal. Mengapa gagal? Karena terlalu overcooked sehingga sebagian lapisan luar menjadi gosong. Akibatnya rasa pisang goreng menjadi pahit. 

    Pisang Wijen (5/10)
    Kalau merasa penampilan pisang panik original terlalu sederhana, ada versi lain dari pisang panik original yaitu pisang wijen. Basically sama seperti pisang panik original bedanya kali ini terdapat topping wijen. Kabar baiknya wijennya tidak gosong sehingga tidak ikutan merusak rasa.  Namun tetap saja keberadaan wijen tidak berhasil cover up rasa pisang goreng. 

    Harga per orang: < Rp. 50.000
    Makasih Infonya!